Latest Entries »

Our Some Photos……

69013_505781932768464_1444690233_n

39312_505780742768583_1745558164_n

fut

http://temonsoejadi.files.wordpress.com/2012/11/bangkit-pemuda.jpg?w=300&h=203

Bismillahirahmanirahim

sahabatku semua yang dirahmati Allah, menulis di pagi buta dengan diselingi lantuan lagu sholawat, menambah semangat dan gairah.. melepas penat seminggu UTS yang menyita tenaga dan pikiran, sahabatku,  momentum tahun baru 1 hijriah juga bersinggungan dengan hari sumpah pemuda yang kemaren baru kita peringati  sebagai pemuda apa yang harus kita isi dan lakukan ? sebagai generasi penerus bangsa dan negara kesatuan indonesia yang kita cintai ini ?

Generasi Muda ber Prestasi, yah kata ini sering kita dengar dimana-mana. Kita sering mendengar orang mengatakan “yang muda yang berprestasi” baik di media cetak maupun di televisi dan media2 elektronik lainnya. Kalimat tersebut seakan-akan sudah menjadi hal yang sangat di idam-idamkan bagi para generasi muda sekarang ini kata “yang muda yang berprestasi” dapat diartikan bahwa itu adalah tanggung jawab generasi muda untuk meraih prestasi dalam hal dan bidang apapun dan dapat kita ketahui bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang penting untuk generasi-generasi penerus bangsa.

Baik-buruknya sebuah bangsa dipengaruhi pada bangunan karakter generasinya. Karakter yang kuat akan menjadikan sebuah bangsa menjadi kuat pula. Karena dengan karakter, kita dapat memberikan ruh pada setiap aktivitas yang dilakukan oleh siapa pun saja baik keluarga, lembaga pendidikan, organisasi hingga bangsa ini termasuk dalam memberikan arah perjalanan bangsa ke depan. Dengan karakter yang positif, akan dapat mengurangi berbagai perilaku destruktif generasi muda, memberikan arah bagaimana mereka merengkuh masa depan yang cerah. Dengan karakter positif yang kuat, akan dapat membentengi generasi muda dan pelaksana negeri ini dari tindakan-tindakan yang dapat merendahkan martabat bangsa seperti korupsi, dan perilaku manipulatif lainnya.

sebuah kisah tentang remaja-remaja yang luar biasa, dalam buku cita-cita ( the secret and power within) karya m iqbal dawami.

Nama lengkapnya adalah Abdurahman Faiz. Di usia 8 tahun ia sudah menelurkan buku kumpulan puisi berjudul Untuk Bunda dan Dunia (DAR Mizan, Januari 2004) dengan kata pengantar dari Taufik Ismail. Buku tersebut meraih Anugerah Pena 2005 serta Buku Terpuji Adikarya IKAPI 2005. Lalu disusul buku keduanya terbit di tahun yang sama dengan buku pertama. Guru Matahari, juga diterbitkan DAR Mizan, bahkan masuk dalam daftar nomine Khatulistiwa Literary Award 2005. Setelah itu berturut-turut Aku Ini Puisi Cinta, kumpulan esai Permen-Permen Cinta Untukmu, dan yang terbaru Nadya: Kisah dari Negeri yang Menggigil yang diterbitkan Lingkar Pena Publishing House, Juli 2007.

Kemampuan menuangkan pikiran dan perasaannya yang dimiliki Faiz di usia belia sangat luar biasa, dan itu tidak lepas dari kerja keras ayah dan ibunya, pasangan wartawan Tomi Satryatomo dan sastrawan Helvy Tiana Rosa. Helvy. Kedua orangtuanya sudah mengamati bakat putra sulungnya yang gemar merajut kata-kata menjadi kalimat indah sejak dini.
Sejak bisa membaca dan menulis di usia 5 tahun, kemampuan Faiz merangkai kata mengalir deras. Kalimat yang dipilihnya sangat puitis. Ketikka menyadari kecenderungan anaknya itu, Ibunya menawari Faiz untuk ikut beragam perlombaan menulis. Dan Faiz sering memenanginya, di antaranya meraih Juara I pada Lomba Menulis Surat untuk Presiden tingkat nasional yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta pada 2003. Saat itu ia baru duduk di kelas I SD. Ketika duduk di kelas II SD, ia juga menjuarai Lomba Cipta Puisi Tingkat SD seluruh Indonesia yang diadakan Pusat Bahasa Depdiknas pada 2004.
Sebelum Faiz ada juga anak-anak lainnya yang berhasil menyalurkan minat dan bakatnya di bidang tulis-menulis, di antaranya Sri Izzati. Novelnya berjudul Kado Buat Ummi diluncurkan pada 2003 saat ia baru berusia 8 tahun. Gadis kecil kelahiran Bandung, 18 April 1995, ini sudah mulai menulis buku sejak kelas II SD. Izzati bahkan sudah meluncurkan novel keduanya yang berjudul Powerful Girls. Ia berhasil dinobatkan sebagai novelis termuda oleh MURI.
Respon pasar terhadap seri Kecil-Kecil Punya Karya ternyata cukup bagus. Terbukti dari membanjirnya pengunjung cilik dan para orangtua pada setiap peluncuran buku. Faiz dan Izzati kemudian menjadi sosok idola baru di tengah keringnya ladang buku anak lokal.
Sejak itulah bermunculan penulis-penulis cilik lain yang menelurkan buku mereka. Ada Qurota Aini, bocah yang di usia 7 tahun menerbitkan buku Nasi untuk Kakek. Buku Aini kemudian meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai penulis termuda. Buku keduanya Asyiknya Outbond terbit setahun setelah itu.
Berturut-turut setelah itu, DAR Mizan mengeluarkan sederet buku di bawah bendera seri ini. Putri Salsa, anak penulis best-seller Asma Nadia -yang tidak lain adik kandung Helvy– ikut digaet DAR Mizan. Bukunya My Candy berjejer bersama karya sejumlah penulis cilik lainnya. Di dalam daftar itu, ada pula Beautiful Days karya Bella, 6, putri penulis dan pendiri komunitas budaya Rumah Dunia, Gola Gong.
Itulah sekelumit kisah tentang anak-anak yang mempunyai kecerdasan di bidang tulis-menulis, yang orangtuanya sudah mengenali dan menyalurkannya sejak dini, sehingga mereka menemukan dunianya.
Banyak orang mengatakan bahwa, sebenarnya bakat dan minat anak akan sesuatu hal dapat dilihat sejak masih kecil atau tepatnya sebelum ia mulai bersekolah. Mulai dari bakat menulis, menari, olahraga, musik, sosial, maupun eksakta. Tinggal bagaimana orangtua mengarahkannya berdasarkan minat dan bakatnya, maka anak itu akan menjadi yang terbaik dibidangnya kelak. Sekarang, bukan zamannya lagi, orang tua memaksakan kehendak kepada anak – anaknnya. Itu akan membuat daya imajinasi mereka berkurang dan terkontrol atas kehendak dan kemauan orangtuanya. Alhasil, pada suatu saat anak akan merasakan suatu kelelahan, dan
akhirnya merasakan suatu kebosanan. Maka dari itu, sudah sebaiknya orang tua yang baik, membimbing anaknya ke bidang yang ia mau.

Menurut Dr Thomas Amstrong, pakar pendidikan, bahwa setiap anak dilahirkan dengan membawa potensi yang memungkinkan mereka untuk menjadi cerdas. Sifat yang menjadi bawaan itu antara lain : keingintahuan, daya eksplorasi terhadap lingkungan, spontanitas, vitalitas, dan fleksibilitas. Dipandang dari sudut ini maka tugas setiap orang tua dan guru hanyalah mempertahankan sifat-sifat yang mendasari kecerdasan ini agar bertahan sampai anak-anak itu tumbuh dewasa.
Ada orang tua yang menganggap bahwa tingkat kecerdasan anak diukur dari IQ-nya saja. Anak yang mempunyai tingkat intelektual yang tinggi adalah anak yang mampu mengerjakan soal matematika atau pelajaran eksakta daripada pelajaran lainnya. Hal ini jelas sebuah pandangan yang harus sedikit diubah dalam masyarakat kita, khususnya para orang tua. Tingkat kecerdasan anak sekarang ini tidak hanya diukur dari IQ saja, namun juga tingkat spiritualitas (SQ) dan emosionalnya (EQ). Kita juga harus menyadari bahwa seorang anak mempunyai tingkat kecerdasan dan bakat, serta minat yang berbeda-beda.
Berbicara masalah bakat, ada anak yang berbakat dalam hal seni, menulis, olahraga, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, peranan orang tua dalam memupuk bakat anak sejak usia dini agar berkembang secara optimal adalah sangat penting. Mel Levine, salah seorang pakar pendidikan anak, menekankan bahwa sangatlah penting untuk menumbuhkan dan meningkatkan kelebihan pada anak. Lebih lagi pada minat yang terfokus, perlu juga dipupuk. Pikiran manusia itu berkembang dengan minat yang mendalam pada bidang yang menarik baginya. Minat pada suatu bidang bisa membuat kita mahir dalam hal tersebut. Oleh sebab itu, orang tua dan guru perlu membantu menemukan hal yang diminati anak dengan sepenuh hati. Bicara masalah bakat, ada tujuh jenis kecerdasan manusia yang
dikembangkan dari hasil penelitian Dr Howard Gardner, seorang profesor pendidikan di Harvard University, yakni teori multiple intelligences. Ia menegaskan bahwa manusia memiliki tujuh jenis kecerdasan yang berbeda-beda dan menggunakannya dengan cara-cara yang sangat personal.

Tujuh jenis kecerdasan itu adalah,

pertama, kecerdasan linguistik, yakni kemampuan untuk berpikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan menghargai makna yang kompleks. Misalnya pengarang, penyair, jurnalis, pembicara, dan penyiar berita.

Kedua, kecerdasan logika-matematika, yakni kemampuan dalam menghitung, mengukur, dan mempertimbangkan proposisi dan hepotesis, serta menyelesaikan operasi-operasi matematis. Misalnya ilmuwan, ahli matematika, akuntan, insinyur, dan pemrogram komputer.

Ketiga, kecerdasan spasial, yakni membangkitkan kapasitas untuk berpikir dalam tiga dimensi, seperti yang dilakukan oleh para pelaut, pilot, pemahat, pelukis, dan arsitek.

Keempat, kecerdasan kinestetik-tubuh yang memungkinkan seseorang untuk menggerakkan objek dan ketrampilan-ketrampilan fisik yang halus. Contohnya atlet, penari, dan ahli bedah.
Kelima, kecerdasan musik jelas kelihatan pada seseorang yang memiliki sensitivitas pada pola titinada, melodi, ritme, dan nada. Misalnya komposer, konduktor, musisi, dan kritikus.

Keenam, kecerdasan interpersonal, yang merupakan kemampuan untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif. Misalnya guru, pekerja sosial, artis, dan politikus yang sukses.

Ketujuh, kecerdasan intrapersonal yang merupakan kemampuan untuk membuat persepsi akurat tentang diri sendiri dan menggunakan pengetahuan semacam itu dalam merencanakan dan mengarahkan kehidupan seseorang.
Setiap anak bisa memiliki satu atau beberapa kecerdasan di atas yang menonjol dan beberapa kecerdasan lain yang normal atau bahkan rendah. Berikut ini penjelasan untuk setiap jenis kecerdasan. Maka, mulailah saat ini kita arahkan dan bina anak-anak kita sesuai minat dan bakatnya sehingga mereka mendapatkan kecerdasannya yang dimilikinya.

sahabatku semua yang dirahmati ALLAH…

sungguh dampak perkembangan dunia informasi dan teknologi belakangan ini seringkali disalahgunakan oleh generasi muda untuk hal-hal yang dapat merugikan mereka. Sebab itu, salah satu upaya agar dapat membentengi generasi muda dari pengaruh negatif pesatnya kemajuan teknologi adalah dengan akhlak mulia.

apalagi ditamabah dengan maraknya virus facebook Dengan jumlah facebooker yang mencapai hamper 23 juta maka diluar dugaan Indonesia menjadi 10 negara terbesar pengguna bersama dengan. AS, Inggris, Turki, Perancis, Canada, Itali, Spanyol, Australi dan Pilipina. Perkembangan facebooker ini melesat dari tahun ke tahun, mulai hanya 831 ribu facebooker pada tahun 2008 hingga mencapai jumlah 22 juta pada tahun 2010 ini dan diprediksi akan terus bertambah dari tahun ke tahun. Lantas kitapun mesti harus mempersiapkan mental kita,
apabila sebagian besar pengguna facebook adalah remaja putra putri kita. Akses negatip apa yang bakal menerpa mereka. Memang perlu kita waspadai bahwa semenjak masyarakat Indonesia mengenal telepon seluler, kemudian internet dan terakhir adalah facebook, sedikit banyaknya sistim tersebut telah mengubah perilaku mereka.  Betapa tidak, mereka ibaratnya telah menjadi bagian masyarakat yang tidak lagi interaktif dan komunikatif dengan lingkungan sosialnya dan pada gilirannya nanti bakalan menjadi masyarakat dengan fitur sosial yang tanpa kepedulian sesama, pengaruh ini sudah barang tentu akan signifikan terhadap remaja.
Karena mereka hanya bersedia berinteraksi dengan komunitasnya yang berada dalam satu sistim.

lalu apa penawar dari maraknya virus facebook ?

jawabnya adalah akhlak mulia, Akhlak tak jauh beda dengan karakter pada manusia. Orang yang berakhlak mulia adalah mereka yang punya karakter kuat untuk berani membuat keputusan dan siap menanggung semua resiko atas keputusan yang diambil. Mereka tak pernah takut dengan yang namanya kegagalan dan tak pernah gentar untuk menghadapi segala tantangan. Orang yang berakhlak selalu menjunjung tinggi pada kebenaran dan tak akan melawan hukum alam yang selalu ada dalam kehidupan ini.

Sebenarnya nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh teladan untuk menjadi pemimpin yang baik kepada kita semua sebagai umatnya. Beliau memiliki sifat kenabian yang terdiri dari Sidiq (jujur), Tabligh (menyampaikan), Amanah (dapat dipercaya), danFathonah (cerdas). Dengan sifat kenabian itu beliau telah banyak memberikan contoh kepada kita untuk menjadi pemimpin atau khalifah yang bermanfaat untuk orang banyak, dan berakhlak mulia. Tidak  cepat terpancing emosi, sehingga mampu menjadi makhluk yang sabar.

Makhluk yang sabar adalah makhluk yang mampu menahan emosinya ketika akan marah. Di situlah sebenarnya sehebat-hebatnya manusia yang telah dicontohkan oleh baginda Rasulullah Muhamad SAW. Senantiasa menyambung tali silaturahim dan mampu memaafkan orang yang berbuat tidak  baik kepada dirinya.Itulah akhlak terbaik Rasulullah yang menjadi panutan kita sebagai umatnya.

nah pertanyaan saya, siapkah kita mengajarkan akhlak mulia kepada generasi muda kita ?

anak muda adalah aset perubahan bagi kita semua. terutama saya sendiri. kita lihat saja, banyak sekali prestasi anak muda kita yang membanggakan tapi yang ikut forum internasional kok hanya sedikit saja anak muda yang di expose. kemanakah televisi kita selama ini? apakah televisi kita lebih senang menayangkan tayangan-tayangan yang tidak mendidik misalkan gosip selebritis, perselingkuhan para artis dan politisi kita, korupsi, kasus penjualan Ijazah Palsu, dan sebagainya. lantas, banyak anak muda kita yang sering terjebak tayangan yang tidak bermutu tersebut. misalkan di televisi swasta, dari pagi hingga sore banyak sekali tayangan-tayangan yang tidak bermutu mengakibatkan banyaknya reality show, acara musik yang gak jelas, acara talkshow yang tidak ada maknanya, dan sebagainya. lalu kemanakah anak-anak muda yang berprestasi di Indonesia, Justru malah di kenal di negeri orang lain? apakah salah? sebenarnya banyak sekali anak-anak muda yang berprestasi baik di negeri sendiri maupun di negeri orang lain namun kenapa tidak di expose lebih jauh lagi? apakah salah dengan pertelevisian kita?

saya kadang bingung, makanya saya jarang menonton tv. bukannya tidak punya tv, tapi males saja, jika saya nyalakan tv isinya ya itu-itu saja, sedikit sekali yang membangun karakter mental dan kepribadian, tapi kebanyakan diisi oleh khayalan musik, hura-hura, sinetron yang fiktif, imajinasi, dan berita-berita kriminal, bahkan yang sedang populer saat ini anggota dewan dan para menteri yang saling serang, entah siapa yang benar, tapi saya yakin kebenaran yang akan menang…

akan ada masa dimana tindak korupsi diberantas dibumi indonesia tercinta ini,

sahabatku yang dirahmati Allah,

lihatlah kelakuan Pelajar saat ini yang semakin brutal saja, kita tengok belakangan ini makin banyak tawuran antar pelajar yang sangat membahayakan keselamatan orang lain karena mereka tawuran dengan menggunakan senjata tajam, biasanya mereka menggunakan besi berbentuk gir yang di buat tajam, mistar besi, dan benda – benda senjata tajam lainnya dan pastinya merka hanya berkelahi dengan pasukannya masing- masing yang memakan korban jiwa luka maupun meninggal dunia.

Pada jaman sekarang pemuda-pemudi di Indonesia sudah banyak yang tidak memperdulikan / menumbuhkan semangat perjuangan atau semangat kemerdekaan Indonesia . Tidak seperti jaman dahulu semangat para pemuda masih berkobar-kobar . Pemuda-pemuda jaman sekarang mulai terpengaruh oleh berbagai hal yang tidak baik bagi pemuda tersebut .

Hanya waktu yang habis disia-siakan untuk hal yang tidak berguna ,Seperti Mendengarkan Musik, Nonton Televisi, Bengong seharian. Itu kan Hal yang tidak Berguna sama sekali .

nah, pertanyaan saya lagi, siapa yang berhak disalahkan karena generasi reamaja kita demikian ? hayo jawab….

dimana ?”Generasi Muda Berakhlak Mulia ?

Dengan Menjadi Insan yang Kreatif, Inofatif, Prestatif , sholeh dan Solehah” ?

dimana ?

Bayangkan jika negeri ini memiliki generasi muda yang punya karakter kuat serta akhlak yang mulia tentu kita akan tersenyum dan merasa tenang saat para pemimpin telah pergi meninggalkan dunia ini. Tapi sebaliknya kalau calon penerus tak punya bekal akhlak mulia tentu detik detik masa depan suram akan selalu menjadi mimpi buruk dalam hidup kita.

hayo siapa yang mau menajawab untukku ?

Hayo generasi muda putra-putri bangsa
Singkirkanlah selimutmu, bangun dan bangkitlah
Bersihkanlah pakaianmu, pandanglah ke muka
Engkaulah harapan Wahai generasi muda insan beragama
Tunjukkanlah bahwa Anda berakhlak mulia
Sinarilah wajah bangsa dengan keimanan Siapa pun Anda mari amalkanlah
Jangan cuma kata mari nyatakanlah
Agar citra bangsa harum dan mulia

ya Allah, bantulah aku untuk memelihara keremajaan dari semangatku,

Keinginanku menjadi sesuatu yang besar

Karna aku belum dibatasi oleh pengalaman,

Ijinkan aku untuk mencoba apapun…….

Karena orang tua yang telah terbatasi dengan pengalaman gagal, membatasi yang dicobanya..

Izinkan aku menjadi jiwa yang selalu muda,

Agar aku membantu kehidupan bangsa kita ini selalu remaja, ceria dalam kebahagiaan pada semua tingkat usia. Amin…

semoga bermanfaat.

https://i0.wp.com/1.bp.blogspot.com/_y4U_cekRWhY/S03V69fSlXI/AAAAAAAAAEQ/JagQaAOFO3U/s400/NO+MORE+AIDS+AND+FREE+SEX.jpg

Perkembangan tekhnologi saat ini turut ditandai dengan perkembangan budaya yang ada di Indonesia saat ini. Seperti telah dibahas diatas bahwa budaya asing bebas masuk begitu saja, tanpa ada filterisasi. Pada umumnya usia remaja merupakan usia kritis dimana apa yang ia lihat menyenangkan pasti akan ditiru. Budaya-budaya tersebut dapat masuk dengan mudah melalui apa saja, misalnya televisi dengan bentuk film,video klip, dll, internet, dan macam-macam alat tekhnologi lainnya. Saat ini internet bukan merupakan sarana yang langka lagi, sarana ini bisa digunakan dimana saja dan kapan saja oleh user. Biasanya masyarakat lebih sering mengakses sesuatu yang baru melalui internet. Saat ini banyak warung internet atau biasa kita sebut dengan warnet menjamur dimana-mana sehingga memudahkan orang-orang yang tidak memasang internet agar bisa mengaksesnya. Diwarnet ini lah kadang-kadang banyak remaja dapat mengakses video porno secara bebas tanpa pengawasan. Ada beberapa pihak warnet yang memblok situs porno tetpai ada juga beberapa warnet yang tidak memblok situs porno sehingga situs ini dapat dibuka secara bebas. Kegunaan internet sering disalahgunakan untuk kepentingan yang kurang baik.

Permasalahan yang sering terjadi lainnya yakni pemasaran blue film dalam bentuk dvd dan vcd yang menyebar luas dikalangan remaja. Sepertinya norma agama sudah tidak lagi dihiraukan oleh segelintir pihak. Mereka yang meraup keuntungan dari bisnis ini seakan tidak memikirkan akibat serta dampak yang akan ditorehkan pada generasi muda yang menonton. Sekarang ini vcd serta dvd banyak dijual dipasaran secara bebas dan mudah didapatkan.

Dampak dari permaslahan sosial ini sangat berat bagi para remaja, salahsatu dampaknya yakni meningkatnya angka MBA (Married By Accident) saat ini. Gaya hidup remaja yang metropolis seakan sudah tidak terbendung lagi, belum lagi kehidupan malam yang sudah sudah menjaring generasi muda kita, tidak dipungkiri kuatnya arus negatif dalam kehidupan remaja saat ini, memicu remaja untuk mencoba obat-obatan terlarang seperti narkotika, ganja, shabu dan sebagainya belum lagi gaya hidup sex bebas.

Gaya hidup Sex Bebas dikalangan remaja sudah tidak lazim sepertinya kita dengar, awalnya mereka melihat tontonan yang sudah sepantasnya tidak ditonton, kemudian timbul rasa penasaran ingin mencoba, kemudian merealisasikannya kepada pasangannya. Hal ini sudah sering terjadi, dan yang lebih parahnya sex bebas tidak dilakukan dengan satu orang tetapi dengan beberapa orang. Hal ini dapat meneyebabkan penyakit kelamin atau bisa mengakibatkan AIDS. Usia muda diibaratkan seperti bunga yang baru mekar sehingga diusia ini jiwa dan pikiran kita masih labil. Terkadang pasangan-pasangan muda yang menganut paham ini, tidak memikirkan akibat dari hal yang mereka lakukan, mereka hanya mementingkan nafsu mereka saja tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi pada akhirnya. Salahsatu contoh kasus pernah terjadi disalahsatu pasangan remaja dalam satu sekolah, mereka tadinya hanya memadu kasih biasa selayaknya orang “berpacaran secara sehat”, tetapi si laki-laki lama-lama mulai jenuh terhadap gaya pacaran yang menurutnya itu-itu saja, suatu hari ia berpikiran untuk melakukan hubungan intim dengan sang kekasih, dan kekasihnyapun mengiyakan ajakan si pria. Alih-alih cinta digunakan untuk merayu sang kekasih, awalnya sang kekasih enggan melakukannya, karena rayuan maut sang pria, si wanita pun mengiyakan. Didalam kasus yang dicontohkan ini, pihak wanita seakan terlihat bodoh dan mau mengikuti saja keinginan sang kekasih hatinya. Alih-alih cinta digunakan untuk merayu si wanita. Tadinya mereka melakukan hubungan intim sekali dan kemudian berkali-kali lalu sampai akhirnya sang wanita hamil dan si laki-laki tidak ingin bertanggungjawab.

Contoh kasus seperti diterangkan diatas sudah banyak terjadi di negeri kita ini, kasus MBA itu seakan mencoreng norma-norma yang berlaku di Indonesia. Peristiwa ini sangat melanggar norma hukum,agama,kesopanan,kesusilaan. Generasi muda seakan tidak menghiraukan lagi norma-norma yang berlaku di Indonesia. Jika contoh kasus seperti diatas, tentu sangat merugikan pihak perempuan, dimana kemuliaan seorang wanita sudah tidak ada dan telah terampas oleh nafsu busuk sesaat. Jika kejadian sudah seperti ini, pihak orang tua lah yang pada akhirnay harus menanggung malu atas perbuatan anak-anak mereka. Para orang tua selalu berharap anak-anakanya menjadi orang-orang yang berguna dan bisa dibanggakan dan tidak ingin anakanya hancur karena hal yang tidak penting seperti ini.

Norma agama merupakan norma yang paling prioritas diutamakan dalam kehidupan. Agama merupakan pondasi dasar jiwa atau pondasi utama pokok yang wajib kita tanamkan dalam diri manusia. Kerabat yang dapat menanamkan norma tersebut hanyalah kelompok kecil terdekat yakni keluarga. Keluraga merupakan rumah bagi anak-anaknya, keluarga merupakan tempat sandaran yang paling nyaman dan aman bagi anak-anaknya, keluarga merupakan sarana bertanya bagi seorang anak dan orang tua wajib menjawab serta menjelaskan hal-hal yang ditanyakan oleh sang anak. Keluarga yakni khususnya orang tua wajib menanamkan nilai agama bagi anak-anaknya, didalam agama sangat jelas ada perintah yang harus dilaksanakan dan larangan yang harus dijauhi. Semua itu dilakukan demi terciptanya kehidupan yang selaras, serasi, dan seimbang

Orang tua harus menanamkan norma agama secara keras dan sifatnya memaksa kepada anak-anakanya. Karena bagaimanapun norma ini adalah norma yang paling utama, dan hanya dengan agama serta keimananlah seseorang dapat terhindar dari serangan marabahaya yang akan membahayakan. Hanya agama yang sanggup menepis godaan-goadaan yang akan membahayakan hidup anak-anak mereka kelak, sehingga agama harus diajarkan dari sejak dini.

https://i0.wp.com/2.bp.blogspot.com/_EZIYEQFsISQ/Spp7LB45fSI/AAAAAAAAAQA/0dlv40k84QY/s400/tari-srikandi.jpg

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman budaya. Dari terbentang sabang sampai merauke terdapat berbagai macam kebudayaan. Keberagaman tersebutlah yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya.


Budaya merupakan identitas sebuah bangsa. Sebuah bangsa dapat dikenal oleh bangsa lain melalui budayanya. Artinya kebudayaan itu menjadi ciri khas tertentu suatu bangsa. Kalau kebudayaan diambil dan diklaim, bagaimana dengan identitas bangsa ini? Lalu, apa yang akan bangsa ini tunjukkan kepada bangsa lain kalau budayanya sendiri di klaim terus-menerus?

Namun, belakangan ini, budaya yang menjadi warisan tanah air mulai terancam keberadaannya. Banyak sekali faktor penyebab hilangnya kebudayaan. Ancaman itu bisa berasal dari banyaknya bencana alam yang akhir-akhir ini melanda bumi pertiwi ini, bukan hanya itu, yang semakin menyedihkan banyaknya pencurian-pencurian warisan budaya oleh negara lain.

Beberapa bulan yang lalu pastinya kita pernah mendengar bukan? pengklaiman lagi dan lagi yang dilakukan oleh Malaysia. Dikutip dari Jurnaldunia.com yang memberitakan negara tetangga, Malaysia kembali mengklaim salah satu budaya Indonesia sebagai miliknya. Kali ini, yang menjadi “korban” adalah Tari Tor-tor dan Gordang Sambilan dari Sumatera Utara, Senin (18/06/2012).

Pula sebelumnya, masih ingatkah dengan alat musik  angklung, tari reog ponorogo, lagu rasa sayange, tari  pendet, dan batik.  Itulah beberapa aset budaya indonesia yang diklaim oleh negeri jiran, kesemuanya itu berhasil membuat masyarakat indonesia geram.  Lantas siapa yang harus disalahkan atas pencurian warisan bangsa tersebut?

Hal ini terjadi lantaran kurangnya kepedulian warga negara Indonesia terhadap budayanya, serta perwujudan kecintaan terhadap kebudayaannya sendiri. Mereka kerap kali kocar-kacir seperti kebakaran jenggot setelah kebudayaan itu sendiri diambil atau dicuri. Saat orang-orang mengaku cinta akan tanah air, seberapa besar rasa kecintaan itu mereka dalam memelihara warisan nenek moyang.

Ketika kebudayaan mulai terusik barulah kita bertindak ingin melaporkan dan mencatatnya sebagai warisan milik bangsa, tapi kalau tidak apakah kita sebagai penerus bangsa masih sadar akan kebudayaan yang dimiliki oleh negara ini? dan barulah setelah itu kesadaran untuk mengenalkan dan menjaga kebudayaan sendiri timbul. Kurangnya kesadaran seperti itulah yang menjadikan Indonesia sasaran empuk oleh negara jiran tersebut.

Bukan hanya itu, kurangnya kepedulian pemerintah terhadap kebudayaan negara sendiri untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya. Seperti yang tercantum dalam Pasal 15 ayat 2: negara pihak dalam kovenan harus melestarikan, mengembangkan, serta menyebarkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Di mana hal itu menjelaskan, kita semua warga negara indonesia termasuk pemerintah diharuskan menjaga serta melestarikan kebudayaan warisan negara Indonesia. Tapi acap kali pemerintah seperti menganaktirikan kebudayaan lokal yang ada. Pemerintah hanya menjaga dan melindungi kebudayaan yang menurutnya bernilai tinggi. Jika seperti itu, bagaimana dengan kebudayaan lokal, apakah tidak sama pentingnya dengan kebudayaan Nusantara lainnya? Bukankah itu menjadi salah satu penyebab hilangnya kebudayaan negara kita ini?

Kasus pengklaiman yang belakangan ini menyerang Indonesia, sepertinya menjadi tamparan keras yang dilayangkan Malaysia kepada masyarakat Indonesia. Bahkan ini menjadi ujian untuk warga Indonesia. Ujian ini dilakukan oleh negara tetangga kita sendiri. Sungguh Malaysia sudah mempermalukan bangsa indonesia untuk kesekian kalinya. Entah siapa yang harus disalahkan atas kejadian memalukan seperti ini, Indonesia atau Malaysia?

Berbicara soal siapa yang harus disalahkan, tentu kita tidak boleh bertindak menuduh negara tetangga sebagai maling kebudayaan kita. Yang kini menjadi pertanyaan mengapa Malaysia sampai tega mengambil terus-menerus kebudayaan milik bangsa Indonesia? Apakah mereka tidak malu melakukan hal semacam itu berulang kali?

Dengan cara seperti itukah kesadaran warga negara Indonesia teruji? Mengapa harus ada kata-kata Cinta Tanah Air, padahal kita mengetahui kini kata-kata itu hanya menjadi pemanis bibir saja tak ada bukti rasa kecintaan warga indonesia terhadap kebudayaan yang dimiliki? Justru gaya ke-Baratan yang jauh dari citra indonesia lebih bangga digunakan bahkan ditiru oleh remaja yang notabene sebagai penerus bangsa ini.

Slogan “rasa cinta tanah air” sudah tentu di masa kekinian hanya menjadi simbol saja. Bagaimana tidak? kini para remaja sudah jarang sekali mendengar lagu-lagu bahkan menonton kebudayaan sendiri, karena mereka lebih tertarik untuk menyaksikan tarian dan musik-musik dari negara Barat. Bahkan kini mereka sudah terhipnotis mengikuti perkembangan negara asing yang berduyun-duyun menghujani negeri pertiwi dengan hal-hal berbau modernisasi. Bahkan mereka berpikir jika masih mendengarkan bahkan menyaksikan lagu-lagu tradisional di mana itu salah satu warisan leluhur bangsa indonesia dikatakan tidak gaul.

Langkah serius harus segera direalisasikan oleh pemerintah untuk menghentikan punahnya kebudayaan milik bangsa indonesia. Semakin dibiarkan tanpa adanya rasa kecintaan untuk menjaga apa yang telah diwarisan nenek moyang terhadap kita, semakin cepat hilang kekayaan yang telah lama kita miliki.

Seperti apakah jati diri kita dihadapan bangsa lain tanpa sebuah budaya? Bahwasanya kita mengetahui identitas sebuah bangsa terletak pada kebudayaan, yang demikian itulah wajib kita pelihara, kalau remaja kini lebih cinta akan kebudayaan asing? Siapa lagi yang akan mewariskan dan memperkenalkan kebudayaan kepada anak cucu kita kelak.

Nurlaela, Mahasiswi Semester 2 Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

http://ressay.files.wordpress.com/2008/06/garuda-pancasila.jpg

Pancasila dalam pengertianya sering disebut juga dengan istilah : way of life, Weltanschaung, Wereldbeschouwing, pandangan hidup, pegangan/pedoman hidup. Dalam hal ini Pancasila dipergunakan sebagai pegangan atau petunjuk dalam kehidupan sehari-hari setiap warga Indonesia. Pancasila juga dipergunakan sebagai petunjuk arah semua kegiatan dalam kehidupan. Dalam kehidupan suatu bangsa adanya pandangan hidup sangat diperlukan. Secara materil Pancasila sebagai pandangan hidup berisi konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia. Didalamnya mengandung konsep dasar mengenai pikiran-pikiran yang terdalam serta gagasan yang mendasar mengenai kehidupan yang dianggap baik, sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki. Nilai-nilai yang dimaksud telah dimurnikan dan dipadatkan dalam lima dasar/lima sila. Pandangan hidup pancasila merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki ndan bersumber dari kehidupan bangsa Indonesia sendiri. Nilai-nilai tersebut antara lain adalah:
1. Nilai Ketuhanan (Keagamaan)
Sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang mengandung nilai keagamaan. Nilai ketuhanan yang paling utama dalam menjalankan tatanan pancasila. Setiap warga negara indonesia dianjurkan dan diwajibkan untuk menganut salah satu agama yang telah ada dan diakui di negara indonesia. Nilai ketuhanan sangat berpengaruh dalam menjalankan pancasila karena menjadi prioritas utama untuk menentukan sikap sebagai pandangan hidup maupun dasar negara.
2. Nilai Kemanusiaan
“Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dapat di artikan sebagai wujud rasa saling menghormati diantara sesama tanpa membedakan Suku, Ras, Budaya bahkan Agama. Hal ini jelas terdapat dalam nilai kemanusiaan yang menjadi dasar pemikiran dalam pancasila. Kecintaan terhadap sesama diajarkan dalam pancasila dengan banyaknya kebudayaan yang ada diseluruh indonesia yang dapat tetap terjaga keharmonisan dalam kehidupan dimasyarakat.
3. Nilai Persatuan
Rasa persatuan yang dimiliki bangsa indonesia yang disebutkan di sila ketiga yang berbunyi “Persatuan Indonesia” menjadi kekuatan yang seharusnya dapat di letakan sebagai landasan pemersatu bangsa. Rasa persatuan terkadang dapat diwujudkan dalam rasa nasionalisme terhadap negara. Nilai persatuan dimasyarakat diharapkan tidak pernah pudar karena menjadi nilai yang sangat kuat dalam kebersamaan. Nilai persatuan juga dapat diwujudkan dalam wujud bela negara.
4. Nilai Kerakyatan
Sila keempat yang berbunyi “ Kerakyatan yang dipimpin oleh Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan” menggambarkan adanya sikap toleransi terhadap sesama, penyelesaian masalah dengan cara musyawarah untuk memutuskan suatu permasalahan. Hal ini sangat dibutuhkan pada masyarakat Indonesia yang harus diwujudkan untuk menciptakan nilai dan norma pancasila. Nilai kerakyatan memberikan suatu pembelajaran bahwa rakyat memegang penuh atas kekuasaan indonesia. Nilai kerakyatan pada pancasila mengandung pengertian dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Hal ini berkaitan dengan pancasila sebagai pandangan hidup yang harus menjadi pedoman bagi rakyat yang ada diseluruh indonesia.
5. Nilai Keadilan
“Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” menjadikan suatu hal yang harus tetap dijunjung tinggi dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Nilai keadilan merupakan salah satu kekuatan bangsa. Rasa keadilan telah menjadi salah satu pandangan hidup masyarakat Indonesia yang terdapat dalam salah satu nilai pancasila. Terciptanya rasa keadilan dapat menjadikan hilangnya kesenjangan sosial di dalam masyarakat. Kesenjangan sosial ini terkadang membuat masyarakat menjadi tidak memiliki rasa nasionalisme yang berujung pada keterpurukan suatu negara. Jadi untuk menghidari hal tersebut diperlukanya nilai keadilan yang harus diterapkan di masyarakat.
Sebagai dasar negara pancasila merupakan suatu asas kerohanian yang meliputi suasana kebatinan atau cita-cita hukum, sehingga merupakan suatu sumber nilai, norma serta kaidah baik moral maupun hukum Negara dan menguasai hukum dasar baik tertulis maupun Undang-undang Dasar, maupun yang tertulis atau konvensi. Dalam kedudukanya sebagai dasar Negara, pancasila mempunyai kekuatan mengikat secara hukum. Sebagai sumber dari segala hokum atau sebagai sumber tertib hukum Indonesia maka pancasila tercantum dalam ketentuan tertinggi yaitu pembukaan UUD 1945, kemudian dijelmakan atau dijabarkan lebih lanjut yang pada akhirnya di kongkritkan dalam pasal-pasal UUD 1945, serta hukum positif lainya.
Dari beberapa definisi atau penjelasan tentang beberapa nilai yang terkandung dalam pancasila dapat menjadi acuan bahwa pancasila pantas menjadi penyaring (filter) yang baik bagi masyarakat indonesia khususnya dikalangan remaja dalam berkembangya globalisasi. Berkembangnya globalisasi dan kurang selektif dalam mengikuti gaya (trend) budaya barat yang mengindikasikan bahwa remaja saat ini lebih mementingkan pergaulan yang ada di budaya barat daripada mempelajari pendidikan pancasila. Para remaja dimanjakan dengan banyaknya gaya hidup yang kurang sejalan dengan nilai pancasila. Gaya hidup negatif yang berkembang saat ini seperti pergaulan bebas, tawuran, penyalahgunnan narkoba yang dapat merusak moralitas para remaja. Jika hal seperti ini terus berlanjut dapat mengakibatkan kurangya perhatian remaja pada perkembangan negaranya. Pendidikan pancasila yang seharusnya dapat menjadi modal remaja untuk mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi terhadap negaranya justru terkadang tidak di kedepankan. Banyak remaja saat ini ketika menyanyikan lagu kebangsaan tidak hafal, hal kecil semacam ini jika dibiarkan berlarut-larut dapat mempengaruhi rasa nasionalisme seseorang yang nantinya akan berkembang menjadi tidak baik dalam mencintai negaranya. Remaja saat
ini diharapkan dapat membantu meluruskan jalan atau roda pemerintahan yang saat ini banyak sekali hal-hal yang kurang baik dalam pemerintah seperti kasus korupsi, pembunuhan berencana dan lainnya. Hal semacam ini seharusnya membuat hati para remaja tergugah untuk membenahi jalanya pemerintahan dengan berpedoman dalam nilai dan norma Pancasila.

nasionalisme

nasionalisme

Ignas Kleden

DALAM sejarah politik Indonesia, nasionalisme rupa-rupanya pernah dianggap bertentangan dengan kebudayaan. Dalam arti itu, antropolog Clifford Geertz umpamanya menulis panjang-lebar tentang primordial sentiments dan national integration. Diambil secara gampangnya, apa yang dinamakan sentimen primordial adalah perasaan-perasaan yang erat hubungannya dengan kebudayaan, khususnya dengan faktor-faktor yang dianggap given dalam kebudayaan, seperti hubungan darah, kesamaan daerah, kesamaan asal-usul, bahasa ibu, atau warna kulit.
Dalam istilah sosiologi, kebudayaan dianggap memberikan segala yang ascribed, yaitu apa saja yang menjadi atribut seseorang atau tempat seseorang diperanggotakan, tanpa pilihan yang aktif dan sadar dari yang bersangkutan. Seseorang menjadi Jawa atau Sunda bukan karena pilihannya, tetapi semata-mata karena askripsi. Sebaliknya, nasionalisme dan integrasi nasional adalah pemikiran, perasaan dan perjuangan yang penuh kesadaran dan pilihan, yang menuntut usaha yang sungguh-sungguh dan harus dikelompokkan ke dalam apa yang dalam jargon sosiologi Parsonian dinamakan achievement (sebagai lawan dari ascription).

Dalam arti tersebut, keterlibatan seseorang atau sekelompok orang dalam integrasi nasional dianggap mengharuskan adanya pengorbanan terhadap hal-hal yang bersifat primordial. Hal ini dalam praktiknya bukan tidak dijalankan dalam politik Indonesia. Bahasa ibu (vernacular) dianggap kurang penting dibandingkan dengan bahasa nasional, dan hal itu tercermin dengan jelas dalam pengajaran bahasa di sekolah-sekolah, di mana (dengan beberapa pengecualian) bahasa ibu tidak diajarkan lagi. Demikian pun rasa kedaerah yang berlebih-lebihan dianggap membahayakan persatuan nasional. Provinsialisme bukanlah unsur kuat dalam nasionalisme, tetapi diperlakukan sebagai risikonya.

Dalam kaitan itu, istilah kebudayaan nasional menjadi istilah yang penuh kontroversi dan ketidakjelasan. Selain bahasa nasional, sastra Indonesia, seni lukis Indonesia, seni tari dengan koreografi baru yang nontradisional, teater modern di Indonesia, pendidikan dan pengajaran nasional, dan media massa Indonesia, sulit bagi kita menunjukkan secara empiris apa saja yang menjadi unsur-unsur kebudayaan nasional.

Menurut pengalaman selama ini, kebudayaan nasional lebih merupakan gagasan (atau bahkan retorika) politik, daripada suatu konsep yang dapat diuraikan secara ilmiah. Dengan mudah suatu tindakan pada masa lalu dianggap bertentangan dengan nilai-nilai kebudayaan nasional, tetapi tidak pernah dijelaskan nilai-nilai mana saja yang dapat diterima sebagai sistem-nilai kebudayaan nasional. Seperti biasanya, istilah politik lebih mudah berfungsi sebagai antikonsep, yang dapat diterapkan secara arbitrer apabila dibutuhkan secara politik, daripada sebagai suatu kerangka konseptual yang jelas batas-batasnya dan dapat dideskripsikan unsur-unsurnya. Apakah ada upacara perkawinan nasional? Apakah ada jenis makanan nasional? Apakah ada pencak silat nasional? Hal-hal terakhir ini lebih mudah diidentifikasikan sebagai produk budaya suatu daerah atau suatu kelompok etnik tertentu.

***

KESULITAN tersebut muncul dari sifat khas nasionalisme yang tumbuh dan berkembang di Indonesia, dan di banyak negara berkembang lainnya. Di negeri-negeri ini nasionalisme telah lahir sebagai gerakan untuk menentang dan mengakhiri suatu pemerintahan dan kekuasaan kolonial. Yang terjadi adalah adanya bangsa yang merdeka mendahului lahirnya suatu negara yang berdaulat. Dalam kenyataannya sering terjadi bahwa sekalipun bangsa itu telah merdeka, negara yang diproklamasikan oleh bangsa tersebut tetap meneruskan watak dari negara kolonial sebelumnya. Nasionalisme jenis ini sangat berbeda dari nasionalisme di negara-negara Eropa di mana beberapa negara modern terbentuk mendahului adanya bangsa.

Sebelum menyingsingnya fajar masa modern, di Eropa Barat telah terbentuk negara-negara yang relatif berdaulat, seperti negara Perancis, Inggris, Spanyol, dan Belanda, yang kemudian menjelma menjadi bangsa pada saat memasuki masa modern. Perubahan negara menjadi bangsa di tempat-tempat tersebut menjadi mantap pada masa-masa setelah Perang Napoleon (1804-1815). Di negara-negara ini dapatlah dikatakan, kesatuan negara mendahului kesatuan bangsa. Varian lainnya adalah Jerman dan Italia, di mana kesatuan budaya di negeri itu jauh lebih dahulu ada dan baru kemudian mendapatkan ekspresi politisnya. Dengan lain perkataan, di kedua negara yang tersebut terakhir ini tidak ada masalah dengan kebudayaan nasional seperti halnya di Indonesia, karena kesatuan budaya jauh mendahului kesatuan politik. Kebudayaan Jerman dan kebudayaan Italia sudah mantap pembentukannya sebelum terbentuknya bangsa Jerman atau bangsa Italia.

***

DI Indonesia, yang terjadi adalah bahwa pembentukan bangsa itu berlangsung melalui pergerakan nasional dan mendahului pembentukan negara RI maupun pembentukan kebudayaan nasional Indonesia. Ada dua akibat yang sangat terasa sampai sekarang.

Dari satu segi, negara Indonesia merdeka harus berusaha (dengan tidak selalu berhasil) melepaskan diri dari sifat-sifat negara kolonial yang mendahuluinya, baik negara kolonial Belanda maupun negara kolonial Jepang. Orientasi utama ke pasar luar negeri dalam ekonomi misalnya, merupakan warisan langsung dari negara kolonial Hindia Belanda. Demikian pun, peranan besar militer dalam bidang sosial-politik dalam masa Orde Baru adalah salah satu warisan pemerintahan Jepang. Dari pihak lainnya, kebudayaan Indonesia harus didefinisikan dalam hubungan dengan kebudayaan daerah maupun kebudayaan asing.

Dalam undang-undang dikatakan bahwa kebudayaan nasional terdiri dari puncak-puncak kebudayaan daerah. Definisi ini memang sangat kabur, karena tidak dibedakan kebudayaan daerah yang dihasilkan sebelum terbentuknya negara Indonesia Merdeka, dan kebudayaan daerah yang diciptakan setelah tercapainya kemerdekaan nasional. Sutan Takdir Alisjahbana misalnya, dalam Polemik Kebudayaan dengan tegas menolak semua hasil kebudayaan yang telah tercipta sebelum kemerdekaan sebagai kebudayaan Indonesia. Dalam arti itu, Borobudur paling banter hanya dapat diterima sebagai produk kebudayaan pra-Indonesia, tetapi bukan bagian kebudayaan nasional, karena dia diciptakan pada saat belum ada sama sekali kesadaran tentang ke-Indonesia-an.

Demikian pula, kebudayaan nasional dicoba dikonsepsikan dalam perbedaan, dan bahkan pertentangannya dengan kebudayaan Barat. Ketakutan terhadap kebudayaan Barat sebagai ancaman bagi kebudayaan nasional muncul dengan nyata, baik dalam masa pemerintahan Soekarno maupun dalam masa pemerintahan Soeharto. Tetapi, apa yang sebetulnya dinamakan kebudayaan Barat oleh kedua penguasa itu?

Soekarno memang menolak musik rock ‘n roll, tetapi membaca dengan lahap kepustakaan politik, filsafat, dan sejarah kebudayaan Barat. Soeharto menolak oposisi dalam politik sebagai refleksi kebudayaan Barat, tetapi dengan tangan terbuka menerima modal-modal asing yang sebagian terbesar berasal dari negara-negara Barat. Anehnya, sikap bermusuhan terhadap kebudayaan asing ini hanya ditujukan kepada apa yang dibayangkan sebagai kebudayaan Barat, sedangkan kebudayaan Cina, Parsi, India, dan kebudayaan luar lainnya tidak dianggap sebagai kebudayaan asing.

***

Sekalipun Indonesia sejak awal mendengungkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, namun jelas bahwa persatuan merupakan ide yang dominan, yang telah muncul dari nasionalisme yang bersifat antikolonial. Perjuangan nasional itu diandaikan mengharuskan adanya persatuan nasional, yaitu persatuan semua kelompok etnik di Nusantara ke dalam bangsa Indonesia, dan juga suatu negara kesatuan yang tidak mengijinkan adanya kedaulatan lain di samping kedaulatan RI dalam batas-batas teritorial negara ini.

Sadar-tak-sadar, ide negara kesatuan dan persatuan bangsa ini kemudian menggiring pemikiran ke arah kebudayaan nasional, yang dalam bentuk konkretnya berarti kebudayaan persatuan. Tetapi, persatuan secara budaya merupakan hal yang tidak mudah, karena menimbulkan pertanyaan: mengapa kebudayaan-kebudayaan harus dipersatukan, dan kalau dipersatukan, maka persatuan kebudayaan itu mengikuti pola yang mana? Dalam hal inilah kelihatan sikap yang serba mendua dalam politik Indonesia, yang tentu saja telah muncul dari desakan politik yang ada, yang kemudian harus dijawab secara pragmatis belaka, tanpa mempertimbangkan implikasi budayanya.

Persoalan asimilasi kelompok etnik Tionghoa merupakan contoh soal yang baik, bahwa suatu kelompok budaya dan kelompok etnis yang dianggap asing diminta untuk meninggalkan kebudayaannya sendiri dan bergabung dengan kelompok budaya yang lebih besar. Atau, dalam bahasa antropologi budaya, kebudayaan kelompok etnik Tionghoa harus diperlakukan sebagai subkultur dari suatu dominant culture yang lain, entah Jawa, Batak, atau Sunda. Persoalan ini tentu saja menyangkut masalah dwi-kewarganegaraan orang-orang keturunan Tionghoa yang pernah muncul, yang kemudian dipertegas oleh masalah sikap nasional Indonesia terhadap komunisme. Dengan demikian, persoalan asimilasi bukanlah persoalan kebudayaan, tetapi persoalan politik semata-mata, karena penduduk Timur asing lainnya, seperti keturunan Arab atau India, tidak diminta melakukan asimilasi, karena tidak ada urgensi politik yang mengharuskannya.

***

Kebudayaan Indonesia saat ini sedang menghadapi masalah bangkitnya kebudayaan-kebudayaan daerah, entah karena berakhirnya etatisme dan sentralisme Orde Baru, maupun karena penerapan Otonomi Daerah berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 1999 dan UU Nomor 25 Tahun 1999. Diberikannya hak-hak pemerintahan yang besar kepada daerah (kabupaten) jelas memungkinkan daerah bersangkutan menghidupkan kebudayaan lokal yang menjadi ciri daerah tersebut. Apakah hidupnya budaya daerah ini kemudian semakin menunjang atau menghalangi proses demokratisasi, harus dilihat nanti.

Kalau kebudayaan daerah itu semakin memperkuat feodalisme lokal atau mengembalikan lagi patriarki yang dibenarkan oleh adat-istiadat setempat, maka hidupnya kebudayaan lokal membawa tantangan dan risiko baru untuk demokratisasi. Sebaliknya, kalau munculnya kebudayaan daerah itu memungkinkan pluralisasi ekspresi-ekspresi budaya, yang menjadi representasi dari kesadaran nasional yang sama atas cara yang lebih beragam, maka kita akan mengalami suatu masa di mana kebangsaan dan kebudayaan tidak saling menghambat, tetapi justru saling memperkaya.

Gerakan untuk otonomi daerah, tuntutan untuk kesamaan hak hidup budaya kaum minoritas sebagaimana diperjuangkan dalam gerakan-gerakan multikultural, menguatnya filsafat politik komunitarian di Amerika Serikat sebagai antitese yang kuat terhadap demokrasi liberal, hidupnya kembali lokalitas sebagai countervailing movement terhadap superimposisi yang keras dari proses globalisasi, jelas akan ada pengaruhnya terhadap nasionalisme dan rasa kebangsaan. Bangkitnya negara-negara berbasis etnis di Eropa Timur dan bekas daerah kekuasaan Uni Soviet menjadi pratanda bahwa yang akan kita hadapi di masa depan barangkali bukanlah the clash of civilizations sebagaimana diramalkan Samuel Huntington, tetapi sangat mungkin the clash of nationalities yang didukung oleh identifikasi kebudayaan yang kuat.

Ignas Kleden, Sosiolog, Direktur Pusat Pengkajian Indonesia Timur (The Center for East-Indonesian Affairs), Jakarta.
Dilansir dari:  http://jehovahsabaoth.wordpress.com/2011/09/06/nasionalisme-dan-kebudayaan/