https://i0.wp.com/2.bp.blogspot.com/_EZIYEQFsISQ/Spp7LB45fSI/AAAAAAAAAQA/0dlv40k84QY/s400/tari-srikandi.jpg

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman budaya. Dari terbentang sabang sampai merauke terdapat berbagai macam kebudayaan. Keberagaman tersebutlah yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya.


Budaya merupakan identitas sebuah bangsa. Sebuah bangsa dapat dikenal oleh bangsa lain melalui budayanya. Artinya kebudayaan itu menjadi ciri khas tertentu suatu bangsa. Kalau kebudayaan diambil dan diklaim, bagaimana dengan identitas bangsa ini? Lalu, apa yang akan bangsa ini tunjukkan kepada bangsa lain kalau budayanya sendiri di klaim terus-menerus?

Namun, belakangan ini, budaya yang menjadi warisan tanah air mulai terancam keberadaannya. Banyak sekali faktor penyebab hilangnya kebudayaan. Ancaman itu bisa berasal dari banyaknya bencana alam yang akhir-akhir ini melanda bumi pertiwi ini, bukan hanya itu, yang semakin menyedihkan banyaknya pencurian-pencurian warisan budaya oleh negara lain.

Beberapa bulan yang lalu pastinya kita pernah mendengar bukan? pengklaiman lagi dan lagi yang dilakukan oleh Malaysia. Dikutip dari Jurnaldunia.com yang memberitakan negara tetangga, Malaysia kembali mengklaim salah satu budaya Indonesia sebagai miliknya. Kali ini, yang menjadi “korban” adalah Tari Tor-tor dan Gordang Sambilan dari Sumatera Utara, Senin (18/06/2012).

Pula sebelumnya, masih ingatkah dengan alat musik  angklung, tari reog ponorogo, lagu rasa sayange, tari  pendet, dan batik.  Itulah beberapa aset budaya indonesia yang diklaim oleh negeri jiran, kesemuanya itu berhasil membuat masyarakat indonesia geram.  Lantas siapa yang harus disalahkan atas pencurian warisan bangsa tersebut?

Hal ini terjadi lantaran kurangnya kepedulian warga negara Indonesia terhadap budayanya, serta perwujudan kecintaan terhadap kebudayaannya sendiri. Mereka kerap kali kocar-kacir seperti kebakaran jenggot setelah kebudayaan itu sendiri diambil atau dicuri. Saat orang-orang mengaku cinta akan tanah air, seberapa besar rasa kecintaan itu mereka dalam memelihara warisan nenek moyang.

Ketika kebudayaan mulai terusik barulah kita bertindak ingin melaporkan dan mencatatnya sebagai warisan milik bangsa, tapi kalau tidak apakah kita sebagai penerus bangsa masih sadar akan kebudayaan yang dimiliki oleh negara ini? dan barulah setelah itu kesadaran untuk mengenalkan dan menjaga kebudayaan sendiri timbul. Kurangnya kesadaran seperti itulah yang menjadikan Indonesia sasaran empuk oleh negara jiran tersebut.

Bukan hanya itu, kurangnya kepedulian pemerintah terhadap kebudayaan negara sendiri untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya. Seperti yang tercantum dalam Pasal 15 ayat 2: negara pihak dalam kovenan harus melestarikan, mengembangkan, serta menyebarkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Di mana hal itu menjelaskan, kita semua warga negara indonesia termasuk pemerintah diharuskan menjaga serta melestarikan kebudayaan warisan negara Indonesia. Tapi acap kali pemerintah seperti menganaktirikan kebudayaan lokal yang ada. Pemerintah hanya menjaga dan melindungi kebudayaan yang menurutnya bernilai tinggi. Jika seperti itu, bagaimana dengan kebudayaan lokal, apakah tidak sama pentingnya dengan kebudayaan Nusantara lainnya? Bukankah itu menjadi salah satu penyebab hilangnya kebudayaan negara kita ini?

Kasus pengklaiman yang belakangan ini menyerang Indonesia, sepertinya menjadi tamparan keras yang dilayangkan Malaysia kepada masyarakat Indonesia. Bahkan ini menjadi ujian untuk warga Indonesia. Ujian ini dilakukan oleh negara tetangga kita sendiri. Sungguh Malaysia sudah mempermalukan bangsa indonesia untuk kesekian kalinya. Entah siapa yang harus disalahkan atas kejadian memalukan seperti ini, Indonesia atau Malaysia?

Berbicara soal siapa yang harus disalahkan, tentu kita tidak boleh bertindak menuduh negara tetangga sebagai maling kebudayaan kita. Yang kini menjadi pertanyaan mengapa Malaysia sampai tega mengambil terus-menerus kebudayaan milik bangsa Indonesia? Apakah mereka tidak malu melakukan hal semacam itu berulang kali?

Dengan cara seperti itukah kesadaran warga negara Indonesia teruji? Mengapa harus ada kata-kata Cinta Tanah Air, padahal kita mengetahui kini kata-kata itu hanya menjadi pemanis bibir saja tak ada bukti rasa kecintaan warga indonesia terhadap kebudayaan yang dimiliki? Justru gaya ke-Baratan yang jauh dari citra indonesia lebih bangga digunakan bahkan ditiru oleh remaja yang notabene sebagai penerus bangsa ini.

Slogan “rasa cinta tanah air” sudah tentu di masa kekinian hanya menjadi simbol saja. Bagaimana tidak? kini para remaja sudah jarang sekali mendengar lagu-lagu bahkan menonton kebudayaan sendiri, karena mereka lebih tertarik untuk menyaksikan tarian dan musik-musik dari negara Barat. Bahkan kini mereka sudah terhipnotis mengikuti perkembangan negara asing yang berduyun-duyun menghujani negeri pertiwi dengan hal-hal berbau modernisasi. Bahkan mereka berpikir jika masih mendengarkan bahkan menyaksikan lagu-lagu tradisional di mana itu salah satu warisan leluhur bangsa indonesia dikatakan tidak gaul.

Langkah serius harus segera direalisasikan oleh pemerintah untuk menghentikan punahnya kebudayaan milik bangsa indonesia. Semakin dibiarkan tanpa adanya rasa kecintaan untuk menjaga apa yang telah diwarisan nenek moyang terhadap kita, semakin cepat hilang kekayaan yang telah lama kita miliki.

Seperti apakah jati diri kita dihadapan bangsa lain tanpa sebuah budaya? Bahwasanya kita mengetahui identitas sebuah bangsa terletak pada kebudayaan, yang demikian itulah wajib kita pelihara, kalau remaja kini lebih cinta akan kebudayaan asing? Siapa lagi yang akan mewariskan dan memperkenalkan kebudayaan kepada anak cucu kita kelak.

Nurlaela, Mahasiswi Semester 2 Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta